Friday, September 5, 2014

Selama ini PDIP sebagai partai oposisi dimana sela...


Selama ini PDIP sebagai partai oposisi dimana sela...

Eko Pramono 7:10am Sep 4
Selama ini PDIP sebagai partai oposisi dimana selalu memihak rakyat, menolak kenaikan BBM, namun kenapa sekarang mendorong pak SBY untuk menaikkan BBM dimana saat ini PDIP menjadi partai penguasa. Sayangnya pertemuan di Nusa Dua membuat anggota PDIP kecele (kecewa) karena Pak SBY menolak kenaikan BBM dengan alasan stok bbm masih cukup untuk sementara. Sewaktu Pak SBY menaikkan BBM, pada waktu itu pula PDIP yg paling keras menolak kenaikan BBM. Pak SBY bukan orang bodoh yg akan menaikkan bbm dimasa pemerintahannya selama 1,5 bulan karena dampak kenaikan bbm itu berujung lama dan nama pak SBY pada jabatan terakhir akan jelek dimata warga Indonesia.

BBM salah satu masalah intern, masih banyak lagi masalah intern lain yg belum termasuk masalah extern. Contoh lagi masalah intern yaitu disintegrasi di negara kita baik GAM, RMS dan paling mencolok skrng OPM. Negeri kita ini rawan disintegrasi karena negeri kita ini besar dan kaya, dan banyak negara asing yg melirik negeri kita. Jika negeri kita pecah akan menjadi kesempatan bagi negara asing. Masyarakat Papua melihat bahwa pemerintah hanya memerlukan sumber daya alam Papua belaka. Kondisi ini membuat terjadinya penguatan dalam memori kolektif masyarakat Papua atas Melanesian Brotherhood yang secara alamiah sudah ada. Hal demikian pada akhirnya memperkuat hasrat untuk memisahkan diri dari NKRI. Sejak masa kolonial Belanda, Papua tidak menikmati kemajuan ekonomi. Hal ini kembali terjadi setelah berintegrasi dengan Indonesia. Kekayaan Papua yang berlimpah ruah tidak pernah dirasakan manfaatnya oleh masyarakatnya sendiri.

Papua sebagai pulau milik kita yg kaya baik alam maupun tambang memiliki masalah kompleks. Baik OPM maupun PT. Freeport yg dikuasai asing. Tidak hanya PT. Freeport, banyak SDA milik kita terutama tambang diexplorasi oleh asing. Dan anehnya mereka yg mengexpor kekayaan kita keluar negeri. Lalu kita dapat apa?
Dan lucunya lagi, PT. Newmon sempat menggugat RI karena ingin mengexpor mineral mentah, walaupun sih saat ini gugatan arbitrase sudah dicabut. Memang ekspor bijih mineral merugikan Indonesia dan menguntungkan negara-negara pesaing. Deadline pelarangan ekspor bijih tambang mineral mentah yang diamanatkan oleh undang-undang no.4/2009 tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba) sudah dalam hitungan jam. Terhitung mulai 12 Januari 2014, bijih mineral tak boleh lagi diekspor dan wajib melewati proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, atau yang oleh banyak kalangan diistilahkan sebagai hilirisasi.

Contoh satu satu lagi masalah extern mengenai datangnya pasar babas dan tenaga kerja asing yg akan datang mendatang.
Bahkan, berdasar penelitian terbaru, 44% tenaga kerja asing bukan merupakan penugasan perusahaan prinsipal atau negara asal, melainkan mencari kerja sendiri. Berlakunya kerangka perdagangan bebas seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN diyakini semakin meningkatkan kebutuhan atas pekerja asing. Berdasarkan data Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diterbitkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi selama tahun 2013, tercatat sebanyak 68.957 orang TKA yang bekerja di Indonesia. Memangnya kita siap bersaing dg tenaga kerja asing?
Belum lagi pasar bebas dimana perdagangan bebas merupakan konsep ekonomi yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda. Jadi hal ini akan merugikan home industri, industri tingkat menengah dan pedagang.

Kita terlalu naif jadi warga negara dinegeri sekaya dan sebesar Indonesia. Kapan kita mau dewasa?. Kita terkadang membodohi diri sendiri, memilih pemimpin hanya kehendak hati, bukan memilih secara rasional. Pesan saya yg memilih pemimpin saat ini, jangan pernah mengatakan SIAPAPUN YANG JADI PRESIDENNYA SAMA SAJA. Itu pilihan, kita memilih karena ada perbedaan diantara pilihan itu. Seseorang yg biasanya berkata 'Preseine podo wae, ora enek sing iso diandelne' (presiennya sama saja, tidak ada yg bisa diandalkan) itu perkataan orang yg kecewa karena pilihannya. Ini bukan sikap dewasa guys. Lalu kapan kita bisa dewasa?

~By Guntur~

Original Page: http://www.facebook.com/groups/476637269125064/?id=579514875503969

Sent from Feeddler RSS Reader



Sent from my iPhone

0 comments:

Post a Comment